Minggu, 08 Mei 2011
Cahaya Lentera
Desert Wisdom - Sayings from the Desert Fathers. (8 Mei 2011)
Allah adalah Teman Keheningan
Desert Wisdom, 9 Mei 2011
Rabu, 27 April 2011
Meditasi 46
The resurrection stories reveal the always-present tension between coming and leaving, intimacy and distance, holding and letting go, at-homeness and mission, presence and absence. We face that tension every day. It puts us on the journey to the full realization of the promise given to us. (Henri Nouwen)
Dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus ... Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia ... Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia ... Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita ... ? (Luk 24:13-32)
Kisah kebangkitan mengungkapkan tegangan yang selalu hadir antara kedatangan dan kepergian, kedekatan dan jarak, memegang dan melepaskan, di rumah dan bermisi, kehadiran dan ketidakhadiran. Kita menghadapi tegangan ini setiap hari. Hal ini membawa kita pada perjalanan menuju realisasi penuh akan janji yang diberikan kepada kita (Henri Nouwen)
Selasa, 26 April 2011
Meditasi 45
Absence and presence are touching each other. The old Jesus is gone. They can no longer be with him as before. The new Jesus, the risen Lord, is there, intimately, more intimately than ever. It is an empowering presence. 'Do not cling to me...but go...and tell'. (Henri Nouwen)
Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya."Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru. (Yoh 20:15-16)
Ketidakhadiran dan kehadiran bersentuhan satu sama lain. Yesus yg lama telah pergi. Mereka tidak lagi bersama dengan-Nya seperti sebelumnya. Yesus baru, Allah yang bangkit, ada di situ, dekat, lebih dekat daripada sebelumnya. Hal ini kehadiran yang memberdayakan. "Jangan lekat pada-Ku ... pergi ... dan wartakan!" (Henri Nouwen)
Senin, 25 April 2011
Meditasi 44
Today I was thinking how nobody recognizes Jesus immediately. They think he is the gardener, a stranger, or a ghost. But when the familiar gesture is there again - breaking bread, inviting the disciples to try for another catch, calling them by name - his friends know that he is there with them. (Henri Nouwen)
Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus. Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka (Mat 28:8-9a)
Hari ini aku menyadari bahwa tak ada orang yang mengenali Yesus dengan segera. Mereka berpikir Ia adalah tukang kebun, orang asing, hantu. Tetapi ketika gerakan yang dikenal timbul kembali, -- memecahkan roti, mengajak murid-murid untuk saling menyapa, memanggil dengan nama mereka - teman-teman-Nya tahu bahwa Ia ada di sana dengan mereka. (Henri Nouwen)
Minggu, 24 April 2011
Minggu Paskah
Dear Lord, risen Lord, light of the world, to you be all praise and glory! This day, so full of your presence, your joy, your peace, is indeed your day.
I just returned from a walk through the dark woods. It was cool and windy, but everything spoke of you. Everything: the clouds, the trees, the wet grass, the valley with its distant lights, the sound of the wind. They all spoke of your resurrection; they all made me aware that everything is indeed good. In you all is created good, and by you all creation is renewed and brought to an even greater glory than it possessed at its beginning.
As I walked through the dark woods at the end of this day, full of intimate joy, I heard you call Mary Magdalene by her name and heard how you called from the shore of the lake to your friends to throw out their nets. I also saw you entering the closed room where your disciples were gathered in fear. I saw you appearing on the mountain and at the outskirts of the village. How intimate these events really are. They are like special favors to dear friends. They were not done to impress or overwhelm anyone, but simply to show that your love is stronger than death.
O Lord, I know now that it is in silence, in a quiet moment, in a forgotten corner that you will meet me, call me by name and speak to me a word of peace. It is in my stillest hour that you become the risen Lord to me.
Dear Lord, I am so grateful for all you have given me this past week. Stay with me in the days to come. Bless all who suffer in this world and bring peace to your people, whom you loved so much that you gave your life for them. Amen.
Cahaya Harapan
Ya Tuhan, Tuhan bangkit, terang dunia, segala pujian dan kemuliaan bagi-Mu! Hari ini, begitu penuh kehadiran-Mu, sukacita-Mu, damai-Mu, memanglah hari-Mu.
Aku baru saja kembali dari berjalan melalui hutan gelap. Rasanya dingin dan berangin, tetapi semua berbicara tentangMu. Semuanya: awan, pohon-pohon, rumput basah, lembah dengan lampu jauh nya, suara angin. Mereka semua berbicara tentang kebangkitan-Mu, mereka semua membuat aku sadar bahwa semuanya memang bagus. Pada-Mu semua diciptakan baik, dan dengan seluruh ciptaan-MU diperbarui dan dibawa ke sebuah kemuliaan yang lebih besar dari yang dimiliki pada awalnya.
Saat aku berjalan menembus hutan gelap pada akhir hari ini, penuh sukacita akrab, aku mendengar Engkau memanggil Maria Magdalena dengan nama dan mendengar bagaimana Engkau memanggil dari tepi danau ke teman-teman-Mu untuk membuang jaring mereka. Aku juga melihat Engkau memasuki ruang tertutup di mana murid-murid-Mu berkumpul dalam ketakutan. Aku melihat Engkau muncul di gunung dan di pinggiran desa. Betapa akrabnya peristiwa itu. Betapa sesuatu yang khusus untuk teman-teman. Betapa semuanya tidak dilakukan untuk mengesankan atau mengalahkan siapa pun, tetapi hanya untuk menunjukkan bahwa cinta-Mu lebih kuat daripada kematian.
Ya Tuhan, aku tahu sekarang bahwa dalam keheningan, di saat-saat tenang, di sudut terlupakan Engkau akan bertemu denganku, memanggilku dengan nama dan berbicara kepadaku kata perdamaian. Masih dalam waktu Engkaulah Tuhan yang telah bangkit bagiku.
Ya Tuhan, aku sangat bersyukur untuk semua yang Kau berikan minggu terakhir ini. Tinggallah bersamaku di masa yang akan datang. Berkati semua orang yang menderita di dunia ini dan bawalah perdamaian kepada umat-Mu, kepada siapa Engkau mencintai sehingga begitu banyak hidup-Mu yang Kauberikan kepada mereka. Amin.
Meditasi 43
'Christ is risen. He is risen indeed. We joyfully announce it. [And yet] I realize that my faith and unbelief are never far from each other. Maybe it is exactly at the place where they touch each other that the growing edge of my life is. (Henri Nouwen)
Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati. (Yoh 20:8-9)
Kristus bangkit. Ia sungguh bangkit. Kita dengan gembira mewartakannya. (Dan juga) aku menyadari bahwa kepercayaan dan ketidakpercayaanku tidak pernah berjauhan. Mungkin benar-benar suatu tempat dimana mereka saling bersentuhan dalam sisi hidupku yang berkembang (Henri Nouwen)
Sabtu, 23 April 2011
Sabtu Suci
Jesus announces to us: 'Do not be afraid. I dwell in you till the end of time. (Henri Nouwen)
Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya (Ibr 5:7-9)
Yesus menyatakan kepada kita: "Jangan takut. Aku tinggal di dalam kamu sampai akhir zaman". (Henri Nouwen)
Jumat Agung
The enormous anguish in the Garden of Gethsemane is the anguish of Jesus who yearns for the love of his friends, but they don't realize it. He longs to give them love but they haven't opened themselves to receive it. This is the enormous anguish of God who is only love...who leaves people free to accept or reject that love. (Henri Nouwen)
Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia -- begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi -- demikianlah ia akan membuat tercengang banyak bangsa, raja-raja akan mengatupkan mulutnya melihat dia; sebab apa yang tidak diceritakan kepada mereka akan mereka lihat, dan apa yang tidak mereka dengar akan mereka pahami. (Yes 52:14-15)
Penderitaan besar di Taman Getsemani adalah penderitaan Yesus yang merindukan cinta teman-temannya, tetapi mereka tidak menyadarinya. Dia rindu untuk memberikan cinta tapi mereka belum membuka diri untuk menerimanya. Ini adalah penderitaan besar Tuhan yang adalah Kasih ... membiarkan orang bebas untuk menerima atau menolak kasih itu. (Henri Nouwen)
Kamis Putih
God offers us gifts of forgiveness and mercy, but for some mysterious reason we find these hard to receive. Let's try not to forget the wonder of being able to return again and again to ask for healing. (Henri Nouwen)
Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya ... kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya (Yoh 13:1.5a)
Allah menawarkan kepada kita anugerah pengampunan dan belas kasih, tetapi untuk alasan yang misterius, kita sulit menerimanya. Marilah mencoba untuk mengingat ketakjuban untuk kembali lagi dan lagi untuk meminta penyembuhan. (Henri Nouwen)
Rabu, 20 April 2011
Meditasi 42
The gift of love is a revelation about life that comes from God. You'll see it suddenly multiplying around you. If you give it there's always enough love, enough forgiveness and enough mercy. (Henri Nouwen)
Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku (Yes 50:6)
Karunia Cinta adalah Wahyu tentang kehidupan yang berasal dari Allah. Kita akan melihat bahwa cinta ini mendadak berlipat ganda di sekitar kita. Jika kita memberi selalu cukup cinta, cukup pengampunan dan cukup rahmat. (Henri Nouwen)
Selasa, 19 April 2011
Meditasi 41
Love is free. Love can never be forced. A God who loves is one who risks that the love offered may not be received. (Henri Nouwen)
Ketika makan malam bersama murid-murid-Nya, Yesus sangat terharu, lalu bersaksi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku." (Yoh 13:21)
Kasih itu cuma-cuma. Kasih tidak dapat dipaksakan. Tuhan yang mengasihi adalah yang mengambil resiko bahwa kasih yang ditawarkan-Nya tidak diterima. (Henri Nouwen)
Senin, 18 April 2011
Meditasi 40
If you recognize the gift that you are forever loved, claim it, share it, and celebrate it, it multiplies. In sharing your love with others you suddenly discover there is more than you thought and you only begin to know how much more there is when you give it away. (Henri Nouwen)
Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus. Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu. (Yoh 12:1-3)
Jika kita menyadari anugerah bahwa kita selamanya dicintai, terima, bagi dan rayakanlah, hal ini akan berlipat ganda. Dalam membagi cinta dengan sesama, kita tiba-tiba akan menemukan bahwa ada lebih dari yang kita pikirkan dan kita baru mulai tahu betapa banyaknya ketika kita memberikannya. (Henri Nouwen)
Minggu, 17 April 2011
Minggu Palma
Passion is a kind of waiting - waiting for what other people are going to do. Jesus went to Jerusalem to announce the good news to the people of that city. And Jesus knew that he was going to put a choice before them: Will you be my disciple, or will you be my executioner? There is no middle ground here. Jesus went to Jerusalem to put people in a situation where they had to say "Yes" or "No". That is the great drama of Jesus' passion: he had to wait for their response. What would they do? Betray him or follow him? In a way, his agony is not simply the agony of approaching death. It is also the agony of being out of control and of having to wait. It is the agony of a God who depends on us to decide how to live out the divine presence among us. It is the agony of the God who, in a very mysterious way, allows us to decide how God will be God. Here we glimpse the mystery of God's incarnation. God became human not only to act among us but also to be the recipient of our responses.
. . . And that is the mystery of Jesus' love. Jesus in his passion is the one who waits for our response. Precisely in that waiting the intensity of his love and God's is revealed to us.
Jalan Penantian
Kesengsaraan adalah bentuk penantian - menanti apa yang akan dilakukan orang lain. Yesus pergi ke Yerusalem untuk mewartakan Kabar Gembira bagi orang-orang di kota itu. Dan Yesus tahu bahwa Dia akan memberi mereka pilihan : Maukah kau menjadi murid-Ku, ataukah engkau menjadi algojo-Ku? Tidak ada pilihan di antaranya. Yesus pergi ke Yerusalem untuk menempatkan orang-orang pada situasi dimana mereka harus mengatakan 'Ya' atau 'Tidak'. Inilah drama besar pada kesengsaraan Yesus : Dia harus menanti tanggapan mereka. Apa yang akan mereka lakukan? Mengkhianati-Nya atau mengikuti-Nya? Di satu sisi, penderitaan itu bukan hanya penderitaan mendekati kematian. Tetapi juga penderitaan kehilangan kendali dan harus menanti. Inilah penderitaan Tuhan yang tergantung pada keputusan kita untuk hidup dalam kehadiran Ilahi. Inilah penderitaan Tuhan yang dengan cara yang sangat misterius, membiarkan kita memilih apakah Tuhan menjadi Tuhan. Di sini kita melihat misteri inkarnasi Tuhan. Tuhan menjadi manusia bukan hanya bertindak di antara kita tetapi juga menjadi penerima tanggapan kita.
... dan inilah misteri dari Cinta Yesus. Yesus dalam penderitaannya adalah orang yang harus menanti tanggapan kita. Tepat dalam penantian ini intensitas Cinta-Nya dan Cinta Allah dinyatakan kepada kita.
Henri Nouwen
Meditasi 39
The voice that Jesus heard was an incredible affirmation for him: You are my beloved son. On you my favor rests. That voice made it possible for Jesus to walk in the world, to live in truth, and also to suffer. People ruined his life, rejected him, hurt him, spat on him and finally killed him on the cross, but he never lost the truth. (Henri Nouwen)
Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi. Tetapi Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu. (Yes 50:6b-7)
Suara yg didengar Yesus adalah penegasan luar biasa bagi-Nya : Engkau anak yang Kukasihi. Kepada-Mu Aku berkenan. Suara ini memungkinkan Yesus berjalan di dunia, hidup dalam kebenaran dan juga menderita. Orang-orang menghancurkan hidup-Nya, menolak-Nya, menyakiti-Nya, meludahi-Nya dan akhirnya membunuh-Nya di salib, tetapi Dia tidak pernah kehilangan kebenaran. (Henri Nouwen)
Sabtu, 16 April 2011
Meditasi 38
Jesus' whole life is a life that moves from action - from being in control, preaching, teaching, performing miracles - to passion, in which everything is done to him. He is arrested, whipped, crowned with thorns and nailed to the cross. All this is done to him. The fulfillment of Jesus' life on earth is not what he did but rather in what was done to him. Passion. (Henri Nouwen)
Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia. Karena itu Yesus tidak tampil lagi di muka umum di antara orang-orang Yahudi, Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim, dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-murid-Nya. (Yoh 11:53-54)
Seluruh hidup Yesus adalah suatu kehidupan yang bergerak - dari memegang kendali, berkotbah, mengajar, melakukan mukjizat - menuju kesengsaraan, di mana semuanya dilakukan bagi-Nya. Ia ditangkap, dicambuk, dimahkotai duri dan dipaku pada Salib. Semuanya telah dilakukan bagi-Nya. Pemenuhan hidup Yesus di dunia tidak pada apa yang dilakukan oleh-Nya melainkan apa yang dilakukan bagi-Nya. Kesengsaraan. (Henri Nouwen)
Jumat, 15 April 2011
Meditasi 37
Life is a struggle and choosing to live the struggle gratefully and humbly as a child of God makes all the difference between a fulfilled life and an empty life. (Henri Nouwen)
Yesus berkata, "Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa." (Yoh 10:37-38)
Hidup adalah suatu perjuangan dan memilih untuk hidup dalam perjuangan dengan penuh syukur dan rendah hati sebagai anak Allah membuat segala perbedaan antara hidup yang penuh dengan hidup yang kosong. (Henri Nouwen)
Kamis, 14 April 2011
Meditasi 36
A grateful life is one in which we receive our gifts from God and then lift them up, trusting that they will multiply. That's what Jesus did. (Henri Nouwen)
Jawab Yesus: "Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikit pun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku (Yoh 8:54a)
Hidup yang penuh berkat adalah salah satu yang kita terima sebagai anugerah dari Allah maka ketika kita mensyukurinya, berkat itu akan berlipat ganda. Inilah yang telah dilakukan Yesus (Henri Nouwen)
Rabu, 13 April 2011
Meditasi 35
The father (in the parable of the Prodigal) welcomes his sons just as they are. His love is there for them whether they are at home or away. Love flows from the heart... this same love flows from each of us because God's Spirit of abundant love flows through our hearts. (Henri Nouwen)
Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yoh 8:31-32)
Sang Bapa (dalam kisah si Anak Hilang) menyambut anaknya sebagaimana adanya. Cintanya ada untuk mereka baik ketika di rumah maupun di luar rumah. Cinta keluar dari hati ... cinta yang sama keluar dari setiap kita karena Cinta berlimpah dari Roh Allah keluar dari hati kita (Henri Nouwen)
Selasa, 12 April 2011
Meditasi 34
You have the capacity to give from abundance. There is so much love within you that can be poured out to those around you. Do you know yourself as someone who is loved? Can you recognize how active God's Spirit is within you? (Henri Nouwen)
Maka kata Yesus: "Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri (Yoh 8:28a)
Kita memiliki kemampuan untuk memberi dari kelimpahan. Ada banyak cinta di antara kita yang dapat disebarkan kepada orang-orang di sekitar kita. Apakah kita tahu bahwa kita dicintai? Dapatkan kita merasakan betapa aktif Roh Allah di dalam diri kita? (Henri Nouwen)
Senin, 11 April 2011
Meditasi 33
Only in that place of pain can you discover a much deeper sense of belonging that is more intimate than any belonging the world can offer. It comes from the depths of loneliness and moves us to true communion with God. (Henri Nouwen)
Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." (Yoh 8:10-11)
Hanya di tempat perihnya luka kita dapat menemukan rasa dimiliki yang lebih dalam dan yang lebih akrab daripada apapun yang ada di dunia ini. Hal ini datang dari kedalaman kesendirian dan menuju kita dalam persekutuan sejati dengan Allah (Henri Nouwen)
Minggu, 10 April 2011
Meditasi 32
"[Jesus said]: Father, I thank you for hearing my prayer, I knew indeed that you always hear me." (John 11)
A grateful life is when we give thanks because what is happening to us politically or socially or in our families or in our personal journeys, is the molding hand of a loving Parent, transforming our hearts by love. (Henri Nouwen)
Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: "Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku. (Yoh 11:41-42a)
Hidup yang penuh berkat adalah ketika kita bersyukur atas apapun yang terjadi pada kita, atau dalam kalurga kita ataupun dalam perjalanan pribadi kita, dibentuk oleh orantua yang penuh kasih, mengubah hati kita dengan kasih. (Henri Nouwen)
Minggu Kelima Prapaskah 2011
When we freely allow fear to dominate and change us, we live in misery far from our home of unconditional love.
Meanwhile Jesus, our example, says to the disciples and to us, "Don't be afraid. Perfect love casts out fear." He walked freely, lived freely, and carried on an intimate relationship with the One who sent him into the world. Throughout the nights or early mornings Jesus spent time communing with the One who loved him. Among his last words he tells us, "As the Father has loved me, so I also love you. . . . If you keep my word, the Father and I will come to you and we will make our home in you. . . . I will send you my Spirit, who will dwell with you forever, and will remind you of all I have said to you." Jesus came to convince us that Our Maker's love is pure gift, unearned and free.
We are free to relate with the Source of all life or not.
A great love embraces all the love that you and I
have ever known, from father, mother, spouses, brothers,
sisters, children, teachers, friends, partners, or counsellors.
Welcoming unconditional love automatically makes
us more like the Unconditional Lover. Divine love lasts
forever.
Kasih Tanpa Syarat
Ketika kita membiarkan ketakutan mendominasi dan mengubah kita, kita hidup dalam kesengsaraan jauh dari rumah kasih tak bersyarat kita.
Sementara Yesus, teladan kita, berkata kepada murid-Nya dan kita : "Jangan takut, Kasih Sejati mengusir rasa takut". Dia berjalan dengan bebas, hidup dengan bebas dan berelasi erat dengan Dia yang mengirim-Nya ke dunia. Sepanjang malam ataupun dini hari Yesus menghabiskan waktu untuk berkomunikasi dengan Dia yang mengasihi-Nya.
Di antara kata-kata terakhir-Nya, Ia mengatakan :"Seperti Bapa telah mengasihi-Ku, maka Aku pun mengasihimu ... Jika engkau memegang kata-kata-Ku ini, Bapa dan Aku akan datang kepadamu dan tinggal di dalammu ... Aku akan mengirimkan roh-Ku, yang tinggal bersamamu selamanya, dan akan mengingatkanmu pada apa yang telah Kukatakan kepadamu".
Yesus datang untuk meyakinkan kita bahwa Kasih adalah anugerah murni yang tidak perlu dibeli.
Kita bebas untuk berelasi atau tidak dengan Sumber dari Segala Hidup .
Suatu Kasih yang Besar mencakup semua kasih yang pernah kita kenal, kasih dari orangtua, pasangan, saudara, anak, guru, teman, rekan dan konselor.
Menyambut Kasih tak bersyarat membuat kita makin menyerupai Pencinta Tak Bersyarat.
Kasih ilahi berlangsung selamanya.
Henri Nouwen
Sabtu, 09 April 2011
Meditasi 31
When you feel very upset and angry, your fears prompt you to lash out, to condemn or to take revenge...Learn to wait and to listen from the communion that you experience with God. learn to become like the God who loves you with all your darkness and all your radiant beauty. (Henri Nouwen)
Ya TUHAN, Allahku, pada-Mu aku berlindung (Mzm 7:2)
Ketika kita merasa sangat kesal dan marah, ketakutan kita mendorong kita untuk menyerang, menghukum atau membalas dendam ... Belajarlah untuk menanti dan mendengarkan dari pengalaman bersekutu dengan Allah, belajarlah menjadi seperti Allah yang mencintai kita dengan semua kegelapan dan keindahan cahaya kita. (Henri Nouwen)
Jumat, 08 April 2011
Meditasi 30
Your true identity is not in the hands of other people. Your identity can never be what some other person may think about you. You were fashioned by God in your mother's womb. God knew you intimately before you were born. You are God's beloved child. That is who you truly are. (Henri Nouwen)
Beberapa orang Yerusalem berkata: "Bukankah Dia ini yang mereka mau bunuh? Dan lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepada-Nya. Mungkinkah pemimpin kita benar-benar sudah tahu, bahwa Ia adalah Kristus? Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya, tetapi bilamana Kristus datang, tidak ada seorang pun yang tahu dari mana asal-Nya." Waktu Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berseru: "Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku." (Yoh 7:25-29)
Identitas sejati kita tidak berada pada tangan orang lain. Identitas kita bukanlah apa yang orang lain pikirkan tentang kita. Kita dibentuk oleh Allah dalam rahim ibu kita. Allah mengenal kita sebelum kita dilahirkan. Kita adalah anak yang dikasihi Allah. Inilah sesungguhnya kita. (Henri Nouwen)
Kamis, 07 April 2011
Meditasi 29
God's Spirit within us prompts us to love and respect each other and to speak with divine respect. When connected intimately with God, we find ourselves speaking words of forgiveness, healing, reconciliation, joy and peace. (Henri Nouwen)
Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. (Yoh 5:19)
Roh Allah di dalam kita mengarahkan kita untuk mencintai dan menghormati orang lain dan berbicara dengan Kasih Ilahi. Ketika terhubung erat dengan Allah, kita menemukan diri kita berbicara dengan kata-kata pengampunan, penyembuhan, rekonsiliasi, kegembiraan dan perdamaian. (Henri Nouwen)
Rabu, 06 April 2011
Meditasi 28
The relationship between Jesus and the Father is so intimate it is like breathing. God offers this same intimacy to you and me, breathing love into us, and with this breath inspiring us to breathe love into others. 'It is good for you that I'm going, Jesus said, 'because if I go, I can send you my Spirit, my breath. (Henri Nouwen)
Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga." (Yoh 5:17)
Relasi antara Yesus dan Bapa begitu dekat seperti menarik nafas. Allah menawarkan kedekatan yang sama kepada kita, menghembuskan Kasih ke dalam kita dan dengan Nafas ini menginspirasi kita untuk menghembuskan Kasih kepada sesama. "Baik bagimu bahwa Aku pergi", kata Yesus, "sebab jika Aku pergi, Aku dapat mengirimkan Roh-Ku, Nafas-Ku" (Henri Nouwen)
Selasa, 05 April 2011
Meditasi 27
Stay close to the weak. I say this because this is the way of God. How did God finally reveal true love for us? By sending his beloved Son to be with us where we are poor. (Henri Nouwen)
Yesus berangkat ke Yerusalem. Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh (Yoh 5:1b-3a)
Dekatlah pada yang lemah. Saya katakan demikian karena inilah Jalan Tuhan. Bagaimana Tuhan akhirnya melimpahkan Cinta Sejati kepada kita? Dengan mengirimkan PuteraNya terkasih menemani kita ketika kita lemah (Henri Nouwen)
Senin, 04 April 2011
Meditasi 26
God does not unravel for us the mystery of human suffering. But I believe that God does not want us to suffer. The heart of God, revealed in the life of Jesus, is compassionate. (Henri Nouwen)
"Tuhan, datanglah sebelum anakku mati." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, anakmu hidup!" (Yoh 4:49b-50a)
Allah tidak menguraikan misteri penderitaan manusia. Tapi aku yakin bahwa Allah tidak ingin kita menderita. Hati Allah, terbukti dalam kehidupan Yesus, adalah Kasih. (Henri Nouwen)
Minggu, 03 April 2011
Minggu Keempat Prapaskah 2011
I pray that these last three weeks, in which you invite me to enter more fully into the mystery of your passion, will bring me a greater desire to follow you on the way that you create for me and to accept the cross that you give to me. Let me die to the desire to choose my own way and select my own desire. You do not want to make me a hero but a servant who loves you.
Be with me tomorrow and in the days to come, and let me experience your gentle presence.
Amen.
Oh Tuhan, masa puasa suci ini berlalu dengan cepat. Aku memasukinya dengan rasa takut, tetapi juga dengan harapan yang besar. Aku berharap ada terobosan besar, suatu perubahan kuat, perubahan nyata di hatiku; kuinginkan Paskah menjadi hari yang penuh cahaya sehingga tidak ada jejak kegelapan tinggal dalam jiwaku. Tetapi aku tahu bahwa Dikau tidak datang pada umatMu dengan guntur dan kilat. Bahkan perjalanan Santo Paulus dan Santo Fransiskus melalui kegelapan sebelum mereka melihat CahayaMu. Biarkan aku bersyukur untuk jalanMu yang lembut. Aku tahu Dikau sedang bekerja. Aku tahu Dikau tak meninggalkan diriku sendirian. Aku tahu Dikau mempercepatku untuk Paskah - tetapi dengan cara yang tepat untuk sejarahku sendiri dan temperamenku sendiri.
Aku berdoa untuk tiga minggu terakhir ini, dimana Dikau mengundangku untuk memasuki lebih penuh pada misteri kesengsaraanMu, akan membawaku pada keinginan besar untuk mengikutiMu dengan cara yang Dikau ciptakan untukku dan menerima salib yang Dikau berikan padaku. Biarkan aku mati dari keinginan untuk memilih jalanku sendiri dan memilih keinginanku sendiri. Dikau tidak ingin membuatku menjadi seorang pahlawan, melainkan seorang hamba yang mencintaiMu.
Bersamakulah esok dan hari-hari yang akan datang, biarkan aku mengalami kehadiranMu yang lembut.
Amin.
Meditasi 25
"I only know that I was blind and now I see." (John 9)
Do I really believe that I am loved first, independent of what I do or what I accomplish? This is an important question because as long as I think that what I most need I have to earn...I will never get what I most need and desire, which is a love that cannot be earned but that is freely given. (Henri Nouwen)
satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat (Yoh 9:25b)
Sungguhkah aku percaya bahwa aku dicintai lebih dulu, bebas dari apa yang aku lakukan ataupun apa yang aku hasilkan? Ini adalah suatu pertanyaan penting karena selama aku berpikir bahwa apa yang paling kubutuhkan harus kuusahakan ... aku tidak pernah mendapatkan apa yang kubutuhkan dan kuinginkan, karena Kasih tidak kuhasilkan tetapi diberikan padaku secara cuma-cuma. (Henri Nouwen)
Sabtu, 02 April 2011
Meditasi 24
It is so important for us to really try to understand the heart of God. God does not condemn, does not judge, does not criticize. Some of those images exist in scripture, but they are images that speak more about the limitations of our expression than about the heart of God. From some of those readings and from some of our teachers we have come to think that God only loves those who are strong and good and not those who make poor choices. The truth is that God is only love and, 'God makes the rain to fall on the wicked as well as on the righteous'. (Henri Nouwen)
Yesus bicara dalam perumpamaan bagi orang-orang yang membanggakan dirinya sendiri sebagai yang suci dan memandang rendah orang lain ... Luk 18
Penting bagi kita untuk mencoba memahami hati Allah. Allah tidak mengutuk, tidak menghakimi, tidak mengkritik. Beberapa gambaran ini ada dalam kitab suci, tetapi semuanya adalah gambaran dari keterbatasan ekspresi kita daripada hati Allah. Dari beberapa bacaan ini dan dari beberapa guru kita berpikir bahwa Allah hanya mencintai yang kuat dan baik saja bukan yang membuat pilihan yang salah. Sebenarnya Allah adalah Kasih dan Allah membuat hujan untuk orang yang jahat maupun yang baik. (Henri Nouwen)
Jumat, 01 April 2011
Meditasi 23
The great conversion [of our life is to] learn the courage to say, 'I don't have to ask permission from the world to live. I am not what other people say I am. I am not what I produce. I am not what I own. What I truly am is the chosen, beloved child of Divine God.' (Henri Nouwen)
Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?" Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini." (Mrk 12:28-31)
Perubahan besar dalam hidup kita adalah belajar untuk berani berkata : "Saya tidak perlu meminta ijin kepada dunia untuk hidup. Saya bukan seperti yang orang lain katakan. Saya bukan apa yang saya hasilkan. Saya bukan juga apa yang saya miliki. Saya adalah anak yang sungguh dipilih dan dikasihi Allah. (Henri Nouwen)
Kamis, 31 Maret 2011
Meditasi 22
There is no human being who hasn't experienced from an early age the fears of those around him or her. Fear and insecurity have touched our lives. But the spiritual life is to discover that there is safety for us. The womb of God is our safe and sacred dwelling place. This is where we can return again and again. (Henri Nouwen)
"Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. (Luk 11:17)
Tidak ada manusia yang tidak pernah mengalami ketakutan di awal pada hal-hal di sekelilingnya. Ketakutan dan ketidak nyamanan telah menyentuh hidup kita. Tetapi kehidupan spiritual adalah menemukan bahwa ada keselamatan bagi kita. Rahim Allah adalah tempat tinggal kita yang aman dan kudus. Di sinilah kita dapat kembali lagi dan lagi. (Henri Nouwen)
Rabu, 30 Maret 2011
Meditasi 21
In our lives there are moments when we realize that, even if we may have done everything to destroy ourselves, we have never lost our true identity as beloved daughters or sons. That identity is never taken away. And that moment of realization is a very, very important moment. (Henri Nouwen)
Tetapi waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu. (Ul. 4:9a)
Dalam hidup kita ada saat ketika kita menyadari bahwa bahkan jika kita telah melakukan segala sesuatu untuk menghancurkan diri kita, kita tidak pernah kehilangan identitas sejati kita sebagai anak yang dikasihi Allah. Identitas ini tidak pernah tercabut, dan saat menyadarinya adalah saat yang sangat penting. (Henri Nouwen)
Selasa, 29 Maret 2011
Meditasi 20
"Lord make me know your ways. Lord teach me your paths." (Psalm 24)
Once we approach intimacy with God dwelling within, and once we accept others and ourselves as we are, we may begin to speak about 'happy guilt' or happy brokenness'. The inner struggle is no longer such a burden but a way to truth, to light and to life. How is it possible to be children of God, embraced by Divine Love and allowed into intimacy with the Creator of the Universe if God hadn't already welcomed us with compassion, just as we are?
Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. (Mzm 25:4)
Begitu kita mengalami kedekatan dengan Allah di dalam kita dan begitu kita menerima orang lain dan diri sendiri sebagaimana adanya, kita mulai bicara mengenai 'bersalah yang berbahagia' atau 'keterpecahan yang berbahagia'.
Perjuangan batin tidaklagi sebagai batasan melainkan suatu jalan menuju kebenaran, terang dan kehidupan.
Bagaimana mungkin menjadi anak Allah, dinaungi Kasih Ilahi dan diterima masuk dalam kebersamaan dengan Pencipta Semesta jika Tuhan tidak lebih dulu mengasihi kita, sebagaimana adanya kita?
Senin, 28 Maret 2011
Meditasi 19
"Jesus came to Nazara and spoke to the people in the synagogue: I tell you solemnly no prophet is ever accepted in his own country." (Luke 4)
The world needs witnesses, prophets, teachers, lovers. The human family needs people who claim God within them, and speak out by living lives of hope and compassion. (Henri Nouwen)
Yesus datang ke Nazaret dan berbicara di depan orang-orang dalam Sinagoga : "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya." (Luk 4:24)
Dunia membutuhkan saksi, nabi, guru, pencinta. Keluarga membutuhkan orang yang menyatakan Allah di dalam mereka dan berbicara dengan menghidupkan hidup dalam harapan dan cinta kasih. (Henri Nouwen)
Minggu, 27 Maret 2011
Minggu Ketiga Prapaskah 2011
In my own life I well know how hard it is for me to trust that I am loved, and to trust that the intimacy I most crave is there for me. I most often live as if I have to earn love, do something noteworthy, and then perhaps I might get something in return. This attitude touches the whole question of what is called in the spiritual life, the "first love." Do I really believe that I am loved first, independent of what I do or what I accomplish? This is an important question because as long as I think that what I most need I have to earn, deserve and collect by hard work, I will never get what I most need and desire, which is a love that cannot be earned, but that is freely given. Thus, my return is my willingness to renounce such thoughts and to choose to live more and more from my true identity as a cherished child of God. (Henri Nouwen)
Kembali Percaya
Dalam hidup pribadiku, aku sungguh mengetahui betapa sulit bagiku untuk percaya bahwa aku dicintai dan percaya bahwa kedekatan yang seringkali aku dambakan ada bagiku. Aku sering hidup mencari cinta, melakukan sesuatu yang sia-sia dan kemudian mengharapkan sesuatu sebagai timbal balik. Sikap ini menyentuh semua pertanyaan yang disebutkan dalam kehidupan spiritual, "Cinta pertama". Benarkah aku percaya bahwa aku terlebih dahulu dicintai, bebas dari apa yang kulakukan atau apa yang kucapai? Hal ini adalah pertanyaan penting karena sepanjang aku berpikir bahwa aku perlu mencari dan mengumpulkan dengan kerja keras, aku tidak pernah mendapatkan apa yang kuperlukan dan inginkan, dimana cinta itu tidak dapat dicari, tetapi secara bebas telah diberikan. Yang perlu kulakukan adalah meninggalkan pemikiran itu dan memilih untuk hidup lebih ke arah identitas asliku sebagai anak yang dikasihi Allah. (Henri Nouwen)
Meditasi 18
As a beloved child of God, you are unlike any other person. You are a unique daughter of God, a unique son of God. By living your life as a child of God you have a unique statement to make and I encourage you to make it. (Henri Nouwen)
"Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup." (Yoh. 4:10)
Sebagai anak yang dikasihi Allah, kita tidak seperti orang lain. Kita adalah anak Allah yang unik. Dengan hidup seperti anak Allah kita memiliki pernyataan unik untuk dibuat dan saya mendorongmu untuk membuatnya. (Henri Nouwen)
Sabtu, 26 Maret 2011
Meditasi 17
(In the parable of the prodigal) I want you to know that you are the younger child, you are the older child, and you are called to become the parent who loves unconditionally. There is a younger child in you that needs conversion, and there is an older child in you that needs conversion. There is also a parent in you that needs to emerge so that you can welcome all those who 'return' to you day after day. (Henri Nouwen)
Kata ayahnya kepadanya: "Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali." (Luk 15:31-32)
(Dalam perumpamaan si Anak Hilang). Saya ingin dirimu tahu bahwa engkau adalah si anak bungsu, engkau adalah si anak sulung dan engkau dipanggil untuk menjadi orangtua yang mencintai tanpa pamrih. Ada anak bungsu di dalammu yang membutuhkan perubahan, ada anak sulung dalam dirimu yang membutuhkan perubahan. Ada juga orangtua dalammu yang perlu dimunculkan sehingga engkau dapat menerima dengan tangan terbuka semua yang 'kembali' kepadamu hari demi hari. (Henri Nouwen)
Jumat, 25 Maret 2011
Meditasi 16
The problem with resentment is that it is not so clear-cut. It's not spectacular and it is not overt, and it can be concealed by the appearance of a holy life. Resentment is so pernicious because it sits very deep within us; in our hearts, in our flesh, in our bones. Often we aren't even aware that it is there. (Henri Nouwen)
Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anaknya yang lain, sebab Yusuf itulah anaknya yang lahir pada masa tuanya; dan ia menyuruh membuat jubah yang maha indah bagi dia. Setelah dilihat oleh saudara-saudaranya, bahwa ayahnya lebih mengasihi Yusuf dari semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepadanya dan tidak mau menyapanya dengan ramah. (Kej. 37:3-4)
Masalah dengan kebencian tidak jelas, tidak spektakuler dan tidak terbuka, dan dapat tersembunyi dari hidup yang kudus. Kebencian begitu jahat karena terletak jauh di dalam kita, dalam daging dan tulang kita. Seringkali kita tidak menyadari keberadaannya di dalam kita. (Henri Nouwen)
Kamis, 24 Maret 2011
Meditasi 16
The elder (the elder brother in the parable of the Prodigal) is not free in his relationship with the father because he is bound by resentment. Resentment is probably one of the most pervasive evils of our time. It is something that is very real, very pernicious and very, very destructive. ... each of us might examine how our lives and relationships are wounded because of unresolved resentments buried in our hearts. (Henri Nouwen)
"Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. " (Luk 16:19-21a)
Anak sulung (dalam kisah 'Anak Hilang') tidak bebas dalam hubungannya dengan ayahnya karena ia terikat pada kemarahan. Kemarahan mungkin salah satu kebusukan yang menembus usia kita. Hal ini sangat nyata, sangat merusak dan sangat, sangat menghancurkan ... kita semua mungkin mengalami bagaimana hidup dan relasi kita terluka karena kemarahan tak terselesaikan membakar hati kita. (Henri Nouwen)
Meditasi 15
Perfect love is the love of a God who is not needy, who doesn't cling to us, who leaves us free to love as we decide, and who gives love freely. This love of God for you will gradually - sometimes even suddenly - just dissipate your fears. (Henri Nouwen)
sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. (Mat 20:28)
Cinta sejati adalah cinta dari Allah yang tidak menuntut, tidak menggantungkan diri, yang membiarkan kita bebas untuk menentukan, dan yang memberi cinta tanpa pamrih. Kasih Allah untuk kita ini akan bertahap - terkadang tiba-tiba juga - menghilangkan takut kita. (Henri Nouwen)
Selasa, 22 Maret 2011
Meditasi 14
"Hear the word of the Lord...'Wash, make yourselves clean...cease to do evil, learn to do good, search for justice, help the oppressed, be just to the orphan, plead for the widow.'" (Isaiah 1)
Discipline follows from being a disciple. It is our effort to do as our Master does. Jesus gave space for the Father to give him what he needed. When you and I are fearful and anxious, we want to take control of our lives...When we follow Jesus we practice a discipline that gives space to let the Father touch us, forgive us and receive us. (Henri Nouwen)
Dengarlah Firman Tuhan ... "Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!" (Yes 1:16-17)
Disiplin berarti menjadi murid (disciple). Inilah usaha kita untuk melakukan apa yang dilakukan Sang Guru. Yesus memberi ruang bagi Bapa untuk memberi apa yang diperlukan-Nya. ketika kita ketakutan dan cemas, kita ingin mengontrol hidup kita ... ketika kita mengikuti Yesus, kita melakukan suatu kedisplinan untuk memberi ruang bagi Tuhan menyentuh kita, mengampuni dan menerima kita. (Henri Nouwen)
Senin, 21 Maret 2011
Meditasi 13
When you look at the world from the heart of God you can see anew the enormous love that God has for us. We are God's people. You can also see the enormous suffering of people who don't know who they are. Looking from the heart of God inspires deep solidarity in us. We recognize and feel and sympathize; our hearts are filled with immense compassion. (Henri Nouwen)
Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati. Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. (Luk 6:36-37)
Ketika kita melihat dunia dari hati Allah, kita akan melihat besarnya Kasih Allah kepada kita. Kita adalah anak-anak Allah. Kita dapat juga melihat besarnya penderitaan orang-orang yang tidak tahu siapakah mereka itu. Melihat dari hati Allah mengilhami solidaritas mendalam dari kita. Kita menyadari, merasakan dan bersimpati. Hati kita dipenuhi oleh belas kasih yang besar. (Henri Nouwen)
Minggu, 20 Maret 2011
Meditasi 12
If you are anxious and nervous and tense and upset, you don't listen because your anxiety allows you no space to listen. You can't receive the voice of God that assures us, 'You are with me always, and all I have is yours'. Let us try to give time and space to that amazing voice, speaking in our hearts. Listening is creating the space in which you can hear the voice that says, 'You are my beloved son, you are my beloved daughter, you are special to me. All that is mine is yours. (Henri Nouwen)
"Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia." (Mat 17:5b)
Jika kita cemas, gugup, tegang dan marah, kita tidak mendengarkan sebab kecemasan kita tidak memberi kesempatan untuk mendengarkan. Kita tidak dapat menerima suara Tuhan yang meyakinkan kita, "Aku menyertaimu selalu dan apa yang ada pada-Ku adalah milikmu". Marilah kita mencoba memberi waktu dan ruang bagi suara yang mengagumkan itu, berkata dalam hati kita. Mendengarkan adalah menciptakan ruang dimana kita dapat mendengar suara yang berkata : "Engkaulah anak yang kukasihi, Engkau berarti bagi-Ku. Semua milik-Ku adalah milikmu". (Henri Nouwen)
Minggu Kedua Prapaskah 2011
The Gospels are filled with examples of God's presence in the word. Personally, I am always touched by the story of Jesus in the synagogue of Nazareth. There he read from Isaiah:
The Spirit of the Lord is on me,
for he has anointed me
to bring good news to the afflicted.
He has sent me to proclaim liberty to captives,
sight to the blind,
to let the oppressed go free,
to proclaim a year of favor from the Lord.
(Luke 4:18-19)
After having read these words, Jesus said, "This text is being fulfilled today even while you are listening." Suddenly, it becomes clear that the afflicted, the captives, the blind, and the oppressed are not people somewhere outside of the synagogue who, someday, will be liberated; they are the people who are listening. And it is in the listening that God becomes present and heals.
The Word of God is not a word to apply in our daily lives at some later date; it is a word to heal us through, and in, our listening here and now.
The questions therefore are: How does God come to me as I listen to the word? Where do I discern the healing hand of God touching me through the word? How are my sadness, my grief, and my mourning being transformed at this very moment? Do I sense the fire of God's love purifying my heart and giving me new life? These questions lead me to the sacrament of the word, the sacred place of God's real presence.
Henri Nouwen
Merasakan Kehadiran
Injil penuh dengan tanda kehadiran Allah dalam kata-katanya. Secara pribadi, saya selalu tersentuh dengan kisah Yesus di Sinagoga. Di sana Ia membaca kitab Yesaya :
"Roh Tuhan ada pada-Ku,
oleh sebab Ia telah mengurapi Aku,
untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin;
dan Ia telah mengutus Aku
untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan,
dan penglihatan bagi orang-orang buta,
untuk membebaskan orang-orang yang tertindas,
untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."
(Luk 4:18-19)
Setelah membaca ayat tersebut, Yesus berkata : "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya." Tiba-tiba menjadi jelas bahwa orang-orang miskin, orang-orang tertawan, orang-orang buta dan orang-orang tertindas bukanlah orang-orang di luar sinagoga yang suatu hari akan terbebaskan. Mereka adalah orang-orang yang mendengar, mendengar bahwa Allah datang dan menyembuhkan.
Sabda Allah bukanlah kata-kata yang akan terjadi dalam hidup sehari-hari kita kelak, melainkan Sabda yang menyembuhkan sekarang, saat ini dan di sini.
Pertanyaannya adalah : BagaimanaAllah hadir seperti yang kita dengarkan? Di mana kita melihat Tangan Penyembuh Allah menyentuh kita melalui Sabda? Bagaimana kesedihan, ratapan, dan keluhan kita diubah saat ini? Apakah kita merasakan Api Kasih Allah memurnikan hati kita dan memberi hidup yang baru? Pertanyaan ini membawa kita ke dalam Sabda, tempat suci kehadiran Allah.
Henri Nouwen
Sabtu, 19 Maret 2011
Meditasi 11
One of the core messages of the Gospel is, 'Love your enemies'. When we're dealing with our own needs, anxieties and fears, we tend to divide the world into enemies and friends. But God showers the rain over the bad as well as over the good. God doesn't need to divide the world into those for and those against God because God loves everyone uniquely and unconditionally. (Henri Nouwen)
Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. (Mat 5:43-44)
Salah satu inti pesan di dalam Injil adalah "Kasihilah musuhmu". Ketika kita berhadapan dengan kebutuhan, kecemasan, dan ketakutan kita, kita cenderung membagi dunia menjadi musuh dan teman. Tetapi Tuhan mencurahkan hujan kepada orang jahat juga selain orang baik. Tuhan tidak perlu membagi dunia antara yang memihak dan melawan-Nya karena Tuhan mengasihi setiap orang secara pribadi dan tanpa syarat. (Henri Nouwen)
Jumat, 18 Maret 2011
Meditasi 10
...there is a ...loneliness. God is calling you to deep, personal intimacy, an intimacy that is wonderful and very demanding. God asks you to let go of many things...you must live it with trust, standing tall. You must try to say, 'Yes, I am lonely, but this particular loneliness sets me on the road to intimacy with God'. (Henri Nouwen)
Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. (Mat 5:23-24)
... kesunyian ... Allah memanggil kita ke dalam kedekatan pribadi yang dalam, suatu kedekatan yang indah dan dirindukan. Allah meminta kita untuk meninggalkan segalanya, kita mesti hidup teguh dan percaya. Kita mesti mencoba berkata "Ya, saya sendiri, tetapi kesendirian ini membimbing ke jalan kedekatan dengan Allah. (Henri Nouwen)
Kamis, 17 Maret 2011
Meditasi 9
Let us try to see the pain of our human and spiritual journey 'from above'. The great art is to gradually trust that life's interruptions are the places where God is moulding you into the person you are called to be. (Henri Nouwen)
"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka" (Mat 7:12a)
Marilah kita mencoba melihat kepedihan perjalanan manusiawi dan spiritual kita 'dari atas'. Suatu karya agung yang perlu secara bertahap diyakini bahwa interupsi hidup adalah tempat dimana Tuhan membentuk kita menjadi seseorang yang dikehendaki-Nya. (Henri Nouwen)
Rabu, 16 Maret 2011
Meditasi 8
Have a sense of compassion for your own journey, for your own leaving and returning; a sense of, 'yes, yes, I'm loved when I take a risk. I'm loved even when I make a mistake because somehow, it's an expression of my desire to claim myself. I did it in a wrong way, but I didn't have any other way to do it at that moment'....Our God awaits us with compassion and tenderness. (Henri Nouwen)
... hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah. (Mzm 51:19b)
Memiliki rasa belas kasih untuk perjalanan kita sendiri, untuk kepergian dan kepulangan kita, memiliki rasa 'ya, ya ... aku dicintai ketika aku mengambil resiko, aku dicintai ketika aku suatu kali entah mengapa melakukan kesalahan , inilah ekspresi dari keinginanku untuk membela diriku. Saya telah melakukan kesalahan, tetapi saya tidak memiliki cara lain untuk melakukannya waktu itu' ... Allah menanti kita dengan lembut dan penuh belas kasih. (Henri Nouwen)
Selasa, 15 Maret 2011
Meditasi 7
The love of the Father embraces not just the return of the son but also the leaving of his child...In a very deep way we are, in our lives, often leaving and returning. This isn't just a one-time event; it's an ongoing experience. Today, get in touch with your own leavings and returnings. I believe that in a very deep sense, one has to be convinced of God's love in order to take the risk of leaving once in a while...It's important to understand that God's love fills you and surrounds you whether you are leaving or returning, and that God waits with longing to welcome you on your return. (Henri Nouwen)
... Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. (Mat 6:8)
Kasih Bapa tidak hanya ketika anaknya pulang kembali tetapi juga ketika anak meninggalkan Bapanya. Dalam batin yg terdalam, seringkali kita pergi dan pulang. Tidak hanya sekali tetapi pengalaman berulang. Saat ini, rasakan kembali kepergian dan kepulangan kita. Saya percaya bahwa dalam batin yang terdalam, seseorang akan yakin pada Kasih Allah jika dia mengalami kepergian sesekali. Hal yang sangat penting untuk memahami bahwa Kasih Allah merengkuh kita, baik ketika kita meninggalkan-Nya maupun ketika kita kembali dan bahwa Allah menanti dengan penuh kerinduan serta menyambut kepulangan kita kembali kepada-Nya. (Henri Nouwen)
Senin, 14 Maret 2011
Meditasi 6
Come, you whom my father has blessed...I was hungry and you gave me food; I was thirsty and you gave me drink; I was a stranger and you made me welcome; naked and you clothed me, sick and you visited me, in prison and you came to see me. (Matthew)
All our struggles in relationships are connected with what I like to call the relationship between the 'first love' and the 'second love'. The first love is from God, who loved us before we were born. The second love is from our parents, brothers, sisters, and friends, and it is only a reflection of that first love. Sometimes we expect from the second love what only the first love can give. Then we experience anguish. My personal struggle has always been that I expected a first love from someone who could only give a second love. (Henri Nouwen)
Kasihilah sesamamu seperti mengasihi dirimu sendiri (bdk Im 19:34a)
Mari kamu yang diberkati oleh BapaKU ... ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. (Matius 25:34-36)
Pergumulan kita dalam membina relasi terkait dengan apa yang kita sebut sebagai 'cinta pertama' dan 'cinta kedua'. Cinta pertama datang dari Allah yang mencintai kita sebelum kita dilahirkan. Cinta kedua dari orang tua, saudara dan sahabat kita, dan hanyalah pantulan dari cinta pertama. Terkadang kita mengharapkan cinta kedua pun seperti cinta pertama, dan mengalami kekecewaan. Pergumulan yang ada masihlah mengharapkan cinta pertama dari orang lain yang hanya mampu memberi cinta kedua. (Henri Nouwen)
Minggu, 13 Maret 2011
Minggu Pertama Prapaskah 2011
Lent offers a beautiful opportunity to discover the mystery of Christ within us. It is a gentle but also demanding time. It is a time of solitude but also community, it is a time of listening to the voice within, but also a time of paying attention to other people's needs. It is a time to continuously make the passage to new inner life as well as to life with those around us.
When we live Lent attentively and gently, then Easter can truly be a celebration during which the full proclamation of the risen Christ will reverberate into the deepest place of our being.
Henri Nouwen
Prapaskah adalah waktu paling penting sepanjang tahun untuk memelihara kehidupan batin kita. Inilah waktu tidak hanya untuk mempersiapkan diri merayakan misteri wafat dan kebangkitan Yesus, tetapi juga kematian dan kebangkitan terus menerus dalam diri kita. Hidup adalah proses berkelanjutan dari kematian sesuatu yg melekat dan dilahirkan kembali dalam harapan baru, kepercayaan baru, dan cinta baru. Wafat dan kebangkitan Yesus tidak hanya peristiwa sejarah yang terjadi dahulu kala, tetapi suatu peristiwa batin yang terjadi di dalam hati kita ketika kita memberi perhatian untuk itu.
Prapaskah menawarkan kesempatan untuk indah untuk menemukan misteri Kristus di dalam diri kita. Saat lembut tetapi juga menuntut. Saat keheningan sekaligus kebersamaan, saat mendengarkan suara di dalam batin tetapi juga saat untuk memberi perhatian kepada kebutuhan orang lain. Saat untuk membangun hidup batin sekaligus juga kehidupan yang baru dengan orang-orang di sekitar kita.
Jika kita menghidupi Prapaskah dengan sungguh dan penuh perhatian, maka Paskah dapat menjadi perayaan dimana pengakuan kebangkitan Krsitus akan bergema dari lubuk terdalam keberadaan kita.