Rabu, 27 April 2011

Meditasi 46

Two of the disciples of Jesus were on their way to a village called Emmaus... Jesus himself came up and walked by their side; but something prevented them from recognizing him... But while he was with them at table he took bread and said the blessing; ...and their eyes were opened and the recognized him. ...They said to each other 'did not our hearts burn within us as he talked to us...?'. (Luke 24)

The resurrection stories reveal the always-present tension between coming and leaving, intimacy and distance, holding and letting go, at-homeness and mission, presence and absence. We face that tension every day. It puts us on the journey to the full realization of the promise given to us. (Henri Nouwen)

Dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus ... Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia ... Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia ... Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita ... ? (Luk 24:13-32)


Kisah kebangkitan mengungkapkan tegangan yang selalu hadir antara kedatangan dan kepergian, kedekatan dan jarak, memegang dan melepaskan, di rumah dan bermisi, kehadiran dan ketidakhadiran. Kita menghadapi tegangan ini setiap hari. Hal ini membawa kita pada perjalanan menuju realisasi penuh akan janji yang diberikan kepada kita (Henri Nouwen)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar