Kesaksian
Banyak orang menjadi percaya karena perkataan perempuan itu (Yoh 4:39)
Dengan hatinya yang telah diubah, perempuan Samaria itu pergi menjalankan perutusan. Dia mewartakan kepada penduduk Samaria bahwa ia telah bertemu dengan Mesias. Banyak orang menjadi percaya kepada Yesus 'karena perkataan perempuan itu' (Yoh 4:39). Perempuan itu terdorong untuk memberi kesaksian mengenai hidupnya yang telah diubah karena perjumpaannya dengan Yesus. Berkat sikap keterbukaan, ia mengakui orang asing sebagai 'sumber mata air yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal' (Yoh 4:14)
Perutusan adalah faktor kunci dari iman Kristiani. Setiap umat Kristiani dipanggil untuk mewartakan nama Tuhan. Paus Fransiskus mengatakan kepada para misionaris, 'ke mana pun kalian pergi, berpikirlah bahwa Roh Allah selalu ada di sana pula bersama dengan kalian'. Perutusan tidak selalu dengan berkotbah. Bisa pula dengan menyapa dan mendekati orang lain dengan dialog kasih, terbuka untuk saling mempelajari dan menghormati perbedaan.
Refleksi :
Apa hubungan antara persatuan dan perutusan/misi?
Apakah orang-orang di komunitas Anda yang menjadi penggerak persatuan dan kerukunan?
Selasa, 20 Januari 2015
Pekan Doa Sedunia 2015 Hari Ketujuh
Rekomendasi
Berilah Aku minum (Yoh 4:7)
Umat Kristiani haruslah yakin bahwa berjumpa dan bertukar pengalaman dengan orang-orang lain, bahkan yang berbeda keyakinan, dapat membantu kita untuk mencapai kedalaman sumur kerohanian kita.
Pendekatan orang asing kepada kita agar kita pun menimba dari sumur mereka, telah menunjukkan bahwa 'keajaiban Tuhan' telah dinyatakan. Di padang gurun umat Allah tidak memiliki air dan Allah mengutus Musa dan Harun untuk mendatangkan air dari batu. Dengan cara yang sama, Tuhan sering memenuhi kebutuhan kita melalui orang lain.
Seruan kita kepada Tuhan agar menolong kita, seruan orang Samaria kepada Yesus, "Tuhan, berikanlah aku air itu" pasti didengar. Sering tidak kita sadari, jawaban dari setiap doa-doa dan kebutuhan kita sudah ada di dalam kehidupan dan kemauan baik orang-orang di sekitar kita. Sebaliknya mari kita juga menjadi 'pemberi air' bagi orang yang membutuhkan di sekitar kita.
Refleksi:
Bagaimana memahami bahwa pengalaman kita akan Allah telah diperkaya melalui perjumpaan dengan orang Kristen lainnya?
Apa yang dapat Gereja dan kita pelajari dari kearifan lokal dan tradisi keagamaan lain di wilayah kita masing-masing?
Berilah Aku minum (Yoh 4:7)
Umat Kristiani haruslah yakin bahwa berjumpa dan bertukar pengalaman dengan orang-orang lain, bahkan yang berbeda keyakinan, dapat membantu kita untuk mencapai kedalaman sumur kerohanian kita.
Pendekatan orang asing kepada kita agar kita pun menimba dari sumur mereka, telah menunjukkan bahwa 'keajaiban Tuhan' telah dinyatakan. Di padang gurun umat Allah tidak memiliki air dan Allah mengutus Musa dan Harun untuk mendatangkan air dari batu. Dengan cara yang sama, Tuhan sering memenuhi kebutuhan kita melalui orang lain.
Seruan kita kepada Tuhan agar menolong kita, seruan orang Samaria kepada Yesus, "Tuhan, berikanlah aku air itu" pasti didengar. Sering tidak kita sadari, jawaban dari setiap doa-doa dan kebutuhan kita sudah ada di dalam kehidupan dan kemauan baik orang-orang di sekitar kita. Sebaliknya mari kita juga menjadi 'pemberi air' bagi orang yang membutuhkan di sekitar kita.
Refleksi:
Bagaimana memahami bahwa pengalaman kita akan Allah telah diperkaya melalui perjumpaan dengan orang Kristen lainnya?
Apa yang dapat Gereja dan kita pelajari dari kearifan lokal dan tradisi keagamaan lain di wilayah kita masing-masing?
Pekan Doa Sedunia 2015 Hari Keenam
Penegasan
Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya (Yoh 4:14)
Percakapan yang diawali dengan Yesus meminta air menjadi percakapan yang menampilkan di mana Yesus menjanjikan air untuk kehidupan kekal. Yesus kembali meminta minum. "Aku haus" dari atas kayu salib. Dari sanalah Yesus menjadi sumber air yang dijanjikan, yang mengalir melalui lambung yang ditikam.
Kita menerima air ini melalui baptisan. Berarti kita menerima kehidupan yang berasal dari Yesus, suatu kehidupan yang dapat kita berikan dan bagikan kepada orang lain. Air baptisan, sumber air kehidupan ini menjadi kesaksian ekumenis dari umat Kristiani dalam melakukan suatu karya karitatif, tindakan berdasarkan kasih, khususnya bagi mereka yang kesepian, kecil, lemah, miskin, tertindas dan difabel.
Refleksi :
Bagaimana kita menginterpretasikan kata-kata Yesus, bahwa melalui Dia kita dapat menjadi 'mata air yang memancar sampai kepada hidup kekal'?
Dimana dan dalam situasi apa orang-orang Kristiani dan Gereja telah menjadi mata air kehidupan bagi sesama?
Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya (Yoh 4:14)
Percakapan yang diawali dengan Yesus meminta air menjadi percakapan yang menampilkan di mana Yesus menjanjikan air untuk kehidupan kekal. Yesus kembali meminta minum. "Aku haus" dari atas kayu salib. Dari sanalah Yesus menjadi sumber air yang dijanjikan, yang mengalir melalui lambung yang ditikam.
Kita menerima air ini melalui baptisan. Berarti kita menerima kehidupan yang berasal dari Yesus, suatu kehidupan yang dapat kita berikan dan bagikan kepada orang lain. Air baptisan, sumber air kehidupan ini menjadi kesaksian ekumenis dari umat Kristiani dalam melakukan suatu karya karitatif, tindakan berdasarkan kasih, khususnya bagi mereka yang kesepian, kecil, lemah, miskin, tertindas dan difabel.
Refleksi :
Bagaimana kita menginterpretasikan kata-kata Yesus, bahwa melalui Dia kita dapat menjadi 'mata air yang memancar sampai kepada hidup kekal'?
Dimana dan dalam situasi apa orang-orang Kristiani dan Gereja telah menjadi mata air kehidupan bagi sesama?
Pekan Doa Sedunia 2015 Hari Kelima
Pewartaan
Engkau tidak memiliki timba dan sumur ini amat dalam (Yoh 4:11)
Perempuan Samaria itu menunjukkan bahwa Yesus tidak memiliki timba untuk mengambil air. Padahal Yesus membutuhkan air, Ia membutuhkan bantuan perempuan tersebut. Banyak orang Kristiani merasa dapat menyelesaikan segala sesuatu sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Salah besar bila kita mempertahankan perspektif ini. Tidak ada satu pun di antara kita yang dapat mencapai dalamnya sumur Ilahi. Iman menuntut kita untuk menggali lebih dalam misteri ini. Kita tidak dapat melakukan hal ini jika kita mengisolasi diri.
Seperti Yesus yang membutuhkan bantuan perempuan Samaria, kita pun butuh bantuan saudara-saudari seiman. Hanya dengan begitulah kita dapat mencapai kedalaman misteri Ilahi ini. Kita harus melakukan seperti yang Yesus lakukan, yaitu belajar dari apa yang berbeda.
Refleksi :
Ingatkah Anda. situasi apa saat Gereja Anda telah membantu Gereja lain, atau sebaliknya telah dibantu oleh Gereja lain?
Apakah ada keberatan/penolakan dalam hal ini dan bagaimana mengatasinya?
Engkau tidak memiliki timba dan sumur ini amat dalam (Yoh 4:11)
Perempuan Samaria itu menunjukkan bahwa Yesus tidak memiliki timba untuk mengambil air. Padahal Yesus membutuhkan air, Ia membutuhkan bantuan perempuan tersebut. Banyak orang Kristiani merasa dapat menyelesaikan segala sesuatu sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Salah besar bila kita mempertahankan perspektif ini. Tidak ada satu pun di antara kita yang dapat mencapai dalamnya sumur Ilahi. Iman menuntut kita untuk menggali lebih dalam misteri ini. Kita tidak dapat melakukan hal ini jika kita mengisolasi diri.
Seperti Yesus yang membutuhkan bantuan perempuan Samaria, kita pun butuh bantuan saudara-saudari seiman. Hanya dengan begitulah kita dapat mencapai kedalaman misteri Ilahi ini. Kita harus melakukan seperti yang Yesus lakukan, yaitu belajar dari apa yang berbeda.
Refleksi :
Ingatkah Anda. situasi apa saat Gereja Anda telah membantu Gereja lain, atau sebaliknya telah dibantu oleh Gereja lain?
Apakah ada keberatan/penolakan dalam hal ini dan bagaimana mengatasinya?
Pekan Doa Sedunia 2015 Hari Keempat
Penolakan
Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya (Yoh 4:28)
Perjumpaan antara Yesus dengan perempuan Samaria menunjukkan bahwa percakapan dengan orang berbeda, orang yang asing, dapat memberikan suatu kehidupan baru yang berbuah positif. Jika perempuan tersebut mengikuti aturan budayanya, seharusnya ia pergi saat melihat Yesus mendekati sumur. Pada hari itu, ia tidak mengikuti peraturan. Baik perempuan tersebut maupun Yesus melanggar perilaku konvensional.
Perempuan Samaria itu meninggalkan tempayannya menunjukkan bahwa dia memperoleh rahmat yang lebih besar daripada air yang hendak dia timba. Dia mengakui karunia yang lebih besar yang ditawarkan oleh orang asing Yahudi ini, yaitu Yesus.
Seringkali begitu sulit bagi kita untuk menemukan nilai, untuk mengakui baik, atau bahkan suci pada sesuatu yang tidak kita tahu dan sesuatu yang menjadi milik orang lain. Namun mengakui karunia milik orang lain sebagai yang baik dan suci merupakan langkah penting menuju kesatuan yang nyata yang kita rindukan.
Refleksi :
Bertemu dengan Yesus menuntut kita untuk meninggalkan 'tempayan kita',
apakah yang dimaksud dengan 'tempayan kita' yang harus kita tinggalkan demi Yesus Kristus?
Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya (Yoh 4:28)
Perjumpaan antara Yesus dengan perempuan Samaria menunjukkan bahwa percakapan dengan orang berbeda, orang yang asing, dapat memberikan suatu kehidupan baru yang berbuah positif. Jika perempuan tersebut mengikuti aturan budayanya, seharusnya ia pergi saat melihat Yesus mendekati sumur. Pada hari itu, ia tidak mengikuti peraturan. Baik perempuan tersebut maupun Yesus melanggar perilaku konvensional.
Perempuan Samaria itu meninggalkan tempayannya menunjukkan bahwa dia memperoleh rahmat yang lebih besar daripada air yang hendak dia timba. Dia mengakui karunia yang lebih besar yang ditawarkan oleh orang asing Yahudi ini, yaitu Yesus.
Seringkali begitu sulit bagi kita untuk menemukan nilai, untuk mengakui baik, atau bahkan suci pada sesuatu yang tidak kita tahu dan sesuatu yang menjadi milik orang lain. Namun mengakui karunia milik orang lain sebagai yang baik dan suci merupakan langkah penting menuju kesatuan yang nyata yang kita rindukan.
Refleksi :
Bertemu dengan Yesus menuntut kita untuk meninggalkan 'tempayan kita',
apakah yang dimaksud dengan 'tempayan kita' yang harus kita tinggalkan demi Yesus Kristus?
Pekan Doa Sedunia 2015 Hari Ketiga
Prasangka
Aku tidak mempunyai suami (Yoh 4:17)
Jawab perempuan Samaria itu kepada Yesus, "Aku tidak mempunyai suami". Topik dari pembicaraan adalah mengenai kehidupan perkawinan dari perempuan tersebut. Terjadi pergeseran tentang isi percakapan mereka, dari air ke suami. Apapun latar belakang perempuan itu, Yesus tetap terbuka padanya. Yesus tidak berparasangka negatif. Sebaliknya Yesus ingin menuntun perempuan itu keluar dari dosa. Buahnya, sikap perempuan itu terhadap Yesus berubah.
Pada poin ini, penghalang dari perbedaan budaya dan agama menjadi hilang dengan memberikan ruang pada sesuatu yang jauh lebih penting : yaitu perjumpaan, keterbukaan lalu percaya.
Refleksi :
Apakah kita telah merendahkan dan meminggirkan kaum perempuan dalam Gereja kita?
Apakah yang telah diperbuat oleh Gereja untuk mencegah dan mengatasi kekerasan yang ditujukan kepada kaum perempuan?
Aku tidak mempunyai suami (Yoh 4:17)
Jawab perempuan Samaria itu kepada Yesus, "Aku tidak mempunyai suami". Topik dari pembicaraan adalah mengenai kehidupan perkawinan dari perempuan tersebut. Terjadi pergeseran tentang isi percakapan mereka, dari air ke suami. Apapun latar belakang perempuan itu, Yesus tetap terbuka padanya. Yesus tidak berparasangka negatif. Sebaliknya Yesus ingin menuntun perempuan itu keluar dari dosa. Buahnya, sikap perempuan itu terhadap Yesus berubah.
Pada poin ini, penghalang dari perbedaan budaya dan agama menjadi hilang dengan memberikan ruang pada sesuatu yang jauh lebih penting : yaitu perjumpaan, keterbukaan lalu percaya.
Refleksi :
Apakah kita telah merendahkan dan meminggirkan kaum perempuan dalam Gereja kita?
Apakah yang telah diperbuat oleh Gereja untuk mencegah dan mengatasi kekerasan yang ditujukan kepada kaum perempuan?
Pekan Doa Sedunia 2015 Hari Kedua
Persaingan
Yesus sangat letih oleh perjalanan (Yoh 4:6)
Orang-orang Farisi telah mendengar kabar bahwa Yesus membaptis murid lebih banyak dibandingkan Yohanes. Rumor ini menimbulkan ketegangan dan ketidaknyamanan, karena itu Yesus memutuskan untuk pergi. Ia sangat letih oleh perjalananNya. KelelahanNya mungkin juga berkaitan dengan rumor yang tersiar.
Sesampainya di sumur, Yesus memutuskan untuk beristirahat.
Kita juga membutuhkan 'sumur' untuk kita bersandar, untuk beristirahat dan melepaskan perselisihan, persaingan dan kekerasan.
Refleksi :
Apakah penyebab terjadinya persaingan di dalam Gereja kita?
Manakah 'sumur' yang bisa kita gunakan untuk bersandar dan beristirahat dari perselisihan dan kompetisi kita?
Yesus sangat letih oleh perjalanan (Yoh 4:6)
Orang-orang Farisi telah mendengar kabar bahwa Yesus membaptis murid lebih banyak dibandingkan Yohanes. Rumor ini menimbulkan ketegangan dan ketidaknyamanan, karena itu Yesus memutuskan untuk pergi. Ia sangat letih oleh perjalananNya. KelelahanNya mungkin juga berkaitan dengan rumor yang tersiar.
Sesampainya di sumur, Yesus memutuskan untuk beristirahat.
Kita juga membutuhkan 'sumur' untuk kita bersandar, untuk beristirahat dan melepaskan perselisihan, persaingan dan kekerasan.
Refleksi :
Apakah penyebab terjadinya persaingan di dalam Gereja kita?
Manakah 'sumur' yang bisa kita gunakan untuk bersandar dan beristirahat dari perselisihan dan kompetisi kita?
Pekan Doa Sedunia 2015 Hari Pertama
Pewartaan
Ia harus melintasi daerah Samaria (Yoh 4:4)
Yohanes menjelaskan bahwa 'melintasi daerah Samaria' adalah pilihan yang dibuat oleh Yesus.
Ia ingin menemui orang-orang yang berbeda. Mereka yang seringkali dianggap sebagai suatu ancaman.
Melalui hal ini, Yesus ingin menunjukkan kepada kita bahwa hidup mengisolasi diri dari orang-orang yang berbeda dengan kita dan berelasi hanya dengan orang-orang yang seperti diri kita merupakan pemiskinan diri sendiri. Justru dengan berdialog dengan mereka yang berbeda akan membuat diri kita semakin bertumbuh.
Refleksi :
Apa arti 'melintasi Samaria' bagiku/komunitasku?
Apa saja langkah-langkah yang telah kita/komunitas/saya lakukan untuk menjalin hubungan yang baik dengan Gereja lain?
Ia harus melintasi daerah Samaria (Yoh 4:4)
Yohanes menjelaskan bahwa 'melintasi daerah Samaria' adalah pilihan yang dibuat oleh Yesus.
Ia ingin menemui orang-orang yang berbeda. Mereka yang seringkali dianggap sebagai suatu ancaman.
Melalui hal ini, Yesus ingin menunjukkan kepada kita bahwa hidup mengisolasi diri dari orang-orang yang berbeda dengan kita dan berelasi hanya dengan orang-orang yang seperti diri kita merupakan pemiskinan diri sendiri. Justru dengan berdialog dengan mereka yang berbeda akan membuat diri kita semakin bertumbuh.
Refleksi :
Apa arti 'melintasi Samaria' bagiku/komunitasku?
Apa saja langkah-langkah yang telah kita/komunitas/saya lakukan untuk menjalin hubungan yang baik dengan Gereja lain?
Langganan:
Postingan (Atom)